Permasalahan utama dalam proses pembudidayaan dengan sistem hidroponik adalah ketika memulai membuat persemaian dan proses perawatan persemaian tersebut. Biasanya yang terjadi adalah anak-semai yang dihasilkan  terlihat  kurus, terlihat pucat tidak segar, dan bila diteruskan dipelihara, maka hasil yang dapatkan pun tidak sesuai dengan yang diinginkan. Untuk menghasilkan anak-semai yang tegap dan tinggi nilai keperidian/viability-nya membutuhkan pengalaman tersendiri.

Cara Menyemai

Rupa-rupanya kebanyakan hobbyist ber-mindset bahwa persemaian itu harus gelap, mengingat begitu halnya di hutan belantara; benih-benih yang jatuh dari tumbuhan, berkecambah di dasar hutan di mana pencahayaan hanya remang-remang saja.

Kemudian, mengenai penyebaran benih. Terlalu rapat, hingga berdesak-desakan , itulah yang kerap terlihat. Kadang cukup dengan benih seperempat jumlahnya?

Sebenarnya tidak terlampau sulit untuk mengira-ngira “lebensraum”, lingkungan hidup, yang diperlukan untuk tiap individu anak-semai. Karena itu, menanam dalam barisan sering diperkenalkan untuk mengatur jarak tanam anak-semai yang teratur. Tetapi masih saja ada kesalahan, dengan menyebar benih terlampau rapat di dalam barisan.

Hasilnya adalah anak-semai yang kurus, jangkung, pucat, dengan kotil terlihat diujung batang yang menjulang tinggi. Bila anak-semai yang demikian dipelihara, maka menurut pengalaman, umurnya untuk mencapai layak panen, menjadi lebih panjang. Ukuran buah sukar mencapai ukuran ideal, dan harus puas dengan buah yang berukuran kecil, dan bentuk yang tidak beraturan.

Cara Pemupukan Persemaian

Anak-semai kelihatan kurus, dan ketika ditanya bagaimana pemupukan persemaian, jawabnya ialah bahwa ia sama sekali belum memupuk persemaian, mengingat bahwa kecambah akan memanfaatkan reserve makanan dalam kotil, serupa dengan anak ayam yang selama beberapa hari mengandalkan reserve makanan dalam bentuk kuning telur yang dibawanya ketika ia menetas. Sebagian memang benar, tetapi pada kecambah hypocotyl sudah terbentuk akar, yang alangkah baiknya dimanfaatkan dengan memberi pupuk pada kecambah, dengan maksud memacu pertumbuhan anak-semai.

Kebanyakan takut memberi pupuk pada anak semai, karena lembutnya kecambah. Diberi pupuk tipis-tipis saja, takut kecambah menjadi gosong, bila diberi larutan pupuk yang terlalu pekat. Paling diberinya larutan pupuk dengan kepekatan EC 0,8 mS. Berdasarkan pengalaman, anak-semai yang dihasilkan akan lebih tegap, lebih banyak yang dapat bertahan hidup, bila EC ditingkatkan menjadi 1,5 mS. Penulis sendiri menggunakan EC 2,0 tanpa ada keluhan keracunan maupun gosong.

Sumber : YOS SUTIYOSO - Pakar Hidroponik