Kehadiran taman bagi sebuah rumah bukan hanya sekedar pemanis atau mempercantik lahan kosong. Taman juga dapat memberi kesejukan udara dan membuat rumah kian asri. Tak heran kalau banyak orang yang mengedepankan pembuatan taman sebagai bagian isi rumah.

Jika sebelumnya kita sudah mengenal taman tropis yang banyak dipakai oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, kini kita akan mengenal taman kering. Lain halnya dengan taman tropis yang khas dengan warna hijau, taman kering atau dry garden terkesan lebih simpel karena tak membutuhkan air. Oleh karena tidak banyak membutuhkan air, maka tanaman yang dihadirkan adalah jenis tanaman yang membutuhkan sedikit air, misalnya bromelia, kaktus, nanas-nanasan dan kamboja.

Dalam hal komposisi, taman kering terdiri dari materi keras (hardscape) seperti batu-batuan, koral, kerikil, dan pasir serta materi lunakĀ  (softscape) berupa tanaman lokal. Bentuknya pun cenderung formal, kaku, teratur dan pembagian ruangnya sangat jelas, terkesan hening dan dingin. Biasanya taman jenis ini cenderung kecil dan sempit karena hanya dapat dinikmati dari luar.

Taman yang berasal dari Jepang ini biasanya digunakan untuk sarana meditasi sehingga bentuknya tidak terlalu luas dan tidak ada tanaman besar. Biasanya, taman ini ditumbuhi lumut yang menempel di bebatuan dan biasanya ditumbuhi dengan tanaman yang sudah dikeringkan. Karenanya, tipikal taman kering sangat lekat dengan pada taman jepang, china, korea, taman mediteranian dan minimalis dengan menonjolkan ciri khasnya masing-masing.

Di Indonesia sendiri, taman kering idealnya dihadirkan dibagian interior rumah agar tidak terterpa hujan. Untuk posisinya ANda dapat menghadirkan taman kering di ruang santai atau ters keluarga. Jangan lupa perhatikan pencahayaannya. Sebab tubuhan membutuhkan cahaya agar bisa tetap tumbuh meski tanpa air. Taman kering memang jauh lebih mudah diperlakukan baik dalam hal tempat, pembuatan serta perawatannya.

Sumber gambar: Google